1. Memasukkan kata-kata positif saat anak sedang tidur. Pada saat tidur, ambang kesadaran seseorang menurun sehingga cenderung tidak melawan atau defence saat dimasukkan kata-kata. Dalam perspektif psikoanalisa, perilaku manusia merupakan dorongan dari alam bawah sadarnya, sehingga diharapkan individu tersebut akan berperilaku sesuai dengan kata-kata yang dibisikkan saat tidur.
  2. Mencintai tanpa syarat (unconditional positive regard). “Kamu anak Mama kalau kamu….” atau “Anak Papa itu anak yang….” adalah salah satu contoh bentuk cinta bersyarat yang kadang tanpa sadar terucap oleh orangtua. Sebaiknya orangtua menyadari bahwa kalimat itu dapat menimbulkan perasaan tertekan, seperti merasa cemas dan mudah menimbulkan stres pada anak. Anak akan merasa ditolak oleh orangtua jika tidak sesuai dengan harapan pada kalimat tersebut.

Misalnya, kalimat yang diucapkan adalah “anak Papa itu adalah anak yang juara”, maka anak merasa tidak dicintai, tidak diterima oleh papanya saat dirinya gagal padahal di saat sulit seperti ini anak mengharapkan dukungan dari orangtuanya. Jika merasa tidak mendapat dukungan dari orangtua, maka menjadi wajar bila anak mencari pelarian di luar bahkan pelarian negatif.

Contoh lain, orangtua mana yang tidak bahagia jika anaknya patuh pada apa yang dikatakan orangtuanya? Tak heran, kadang terucap pula kalimat, “Kamu anak Mama kalau menurut sama Mama.” Namun, dengan bertambahnya usia, pengalaman, dan kemampuan berpikir, apakah anak tidak akan memiliki kemampuan untuk menentukan sikap dan pendapatnya sendiri dimana mungkin sikap tersebut tidak sesuai dengan kehendak Mama?

Takut tidak mendapat cinta dari orangtua, maka ada kemungkinan anak akan memendam pendapatnya sehingga hal tersebut menimbulkan konfl ik internal dalam diri anak. Padahal, konfl ik internal yang tak terselesaikan dan berlangsung terus-menerus dapat menimbulkan disstres dan rentan mengalami gangguan psikologis. Kemungkinan lain, anak akan memanipulasi perilakunya, artinya akan berperilaku sesuai harapan orangtua jika diawasi oleh orangtua, bukan dari kesadaran pribadinya.

Oleh sebab itu, sebagai orangtua, kita harusnya mencintai anak tanpa syarat tertentu supaya anak merasa nyaman saat berinteraksi dengan kita. Saat anak merasa nyaman dengan kita, akan lebih mudah untuk mengembangkan karakter positif pada anak, sekaligus menginternalisasikan karakter tersebut. Dengan begitu, kontrol atas perilaku tersebut bukan lagi dari orangtua, namun dari dalam diri anak sendiri.