Yang perlu diingat, kelima cara di bawah ini tidak dapat berdiri sendiri. Selain itu, pembentukan karakter tidak dapat dilakukan secara instan, tapi memerlukan proses. Jadi, cara-cara di bawah ini harus dilakukan secara terus-menerus dan berkelanjutan.

  1. Mendongeng Selain meningkatkan kemampuan imajinasi anak, mendongeng juga merupakan sarana untuk menanamkan nilai-nilai positif. Cerita dalam dongeng tidak harus panjang, dapat dilakukan kapan saja, dan tidak harus sebelum tidur. Penggunaan binatang sebagai tokoh dalam dongeng dapat memberi rasa nyaman, karena anak tidak merasa digurui dan dipojokkan, bahkan saat dongeng itu digunakan untuk memberi koreksi atau masukan pada perilaku anak yang kurang baik. Di akhir cerita, orangtua sebaiknya memberi apresiasi pada tokoh-tokoh yang memiliki karakter positif dalam dongeng dan membimbing anak untuk menemukan nilai positif dari cerita tersebut. Kegiatan ini juga dapat membangun kebiasaan anak untuk mencari makna positif dari pengalaman hidupnya.
  2. Memberi contoh Pada dasarnya anak butuh contoh konkret, bukan sekadar katakata, maka orangtua juga harus memiliki karakter tersebut. Bagaimana mungkin anak akan memiliki karakter menghormati orang lain sementara orangtuanya sering melontarkan kata-kata negatif kepada pasangannya? Bagaimana mungkin anak akan mampu menghormati hak orang lain sementara orangtua hobinya menyerobot antrean? Menjadi orangtua, artinya juga siap untuk belajar, termasuk membangun karakter positif menjadi kebiasaan. Kuncinya adalah konsistensi ucapan dan tindakan orangtua.
  3. Memberi reward Reward tidak selalu berupa hadiah barang, reward dapat berupa pujian, belaian, mengajak anak “tos” atau acungan jempol. Sebab, reward merupakan penguat positif agar anak membentuk perilaku yang diharapkan dan mau mengulang perilaku tersebut. Memberikan reward akan jauh lebih efektif dibanding memberikan hukuman. Pasalnya, dengan hukuman, anak belum tentu memamahami perilaku apa yang sebenarnya diharapkan darinya.

Seperti pada kasus menghukum anak karena berbohong, tidak akan menimbulkan kesadaran anak tentang pentingnya berperilaku jujur dan tidak akan mengajari anak bagaimana berperilaku jujur itu sendiri. Hukuman juga menimbulkan perasaan negatif pada anak, sementara pada proses belajar, perasaan positif lebih mampu meningkatkan kesiapan belajar anak sehingga proses belajar akan menjadi efektif. Kuncinya adalah konsistensi pemberian reward pada perilaku yang akan dibentuk. Misalnya, saat anak mampu menyampaikan pendapat pada guru atau temannya, kita memberi pujian.

Simak juga informasi lengkap seputar tempat kursus IELTS terbaik di Jakarta.