Tak lama setelah B.J. Habibie membuka keran kebebasan me dia massa di Indonesia dengan mempermudah proses pe mohonan Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP), kita di landa banjir informasi. Setelah Internet hadir, kita semakin– – tenggelam dalam derasnya arus informasi.

Gelombang pertama

Pada akhir 90-an, para dosen dan mahasiswa ilmu komunikasi di tanah air meramalkan terjadiya culture shock akibat banyaknya media baru yang muncul. Terlebih lagi, semua media sedang larut dalam euforia kebebasan yang membuat mereka bisa berkespresi dengan lebih terbuka.

Tenggelam

Akibatnya, informasi mengalir deras bak air bah. Ratusan media yang baru muncul berlomba-lomba meraih khalayak dengan berbagai cara. Ada yang penyajiannya santun, bombastis, bahkan vulgar. Tidak sedikit di antara media-media itu yang kua litas penyajian informasinya jauh di bawah standar karena informasi yang disajikan tidak berimbang, data yang disajikan tidak lengkap, atau memuat opini pribadi jurnalisnya. Namun, tidak banyak masyarakat kita yang menyadari hal itu. Kebanyakan justru menikmatinya. Beragam informasi yang tersaji dilahap begitu saja tanpa filter. Upaya untuk mencari sumber lain sebagai pembanding dan penyeimbang juga nyaris tidak ada.

Gelombang kedua

Belum lagi masyarakat kita matang dengan budaya media massa cetak yang berkembang sangat cepat dalam waktu singkat, hadir Internet. Teknologi yang menjanjikan jejaring tanpa batas ini memiliki kelebihan yang mustahil dimiliki media cetak, yaitu kecepatan yang mendekati realtime, interaktif, dan multimedia. Keunggulan lain yang kemudian menjadi kunci utama berkembangnya media online adalah pembaca bisa mendapatkannya secara gratis.

Kedigdayaan Internet semakin terasa ketika industri telekomunikasi mulai mengalihkan fokusnya dari layanan suara ke layanan data (Internet). Terlebih lagi saat tren jejaring sosial – yang belakangan lebih populer dengan serbuan media sosial – merasuk Indonesia. Tak satu pun operator telekomunikasi, fixed maupun wireless, yang absen mencantumkan logo Facebook, Twitter, Instagram, dan lain-lain dalam paket layanan Internet yang ditawarkannya. Di era Internet dan media sosial ini kita kembali diterjang derasnya arus informasi.

Pasalnya, informasi datang bukan hanya dari sumber primer seperti media online, tapi juga dari individu yang menjadi teman kita di media sosial. Selain berbagi link sumber informasi, pengguna media sosial juga kerap menjadi “narasumber” dari peristiwa yang dialami, menyampaikan opini, atau sekadar curhat. Semua aktivitas itu membuat timeline di media sosial mengalir deras.

Fenomena ini menimbulkan keriuhan yang serupa, bahkan jauh lebih ramai. Timeline berbagai media sosial disesaki dengan beragam informasi, termasuk informasi pribadi yang dengan sukarela dipublikasikan. Jika seorang pengguna media sosial rata-rata memiliki 100 teman di account-nya, bisa dipastikan ia akan tenggelam dalam timeline-nya

Kategori: Berita