Pelemahan Rupiah Tidak Selalu Berdampak Negatif

Pelemahan Rupiah Tidak Selalu Berdampak Negatif – Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) menilai dampak pelemahan nilai tukar rupiah tidak semuanya negatif. Sebab, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS juga bisa berefek positif di sejumlah sektor industri dalam negeri. Wakil Ketua KEIN Arif Budimanta mengatakan, kajian KEIN menunjukkan bahwa pengaruh nilai tukar bisa positif ke beberapa sektor.

Pengaruh positif bisa ke sektor pertanian, perkebunan, kehutanan, dan perikanan. Jadi, ini basis kita, ujar Arif dalam sebuah acara diskusi ekonomi berlokasi di Hotel Ibis, Jakarta, Rabu (26/9). Berdasarkan kajian itu, ada potensi sektor agribisnis menjadi tulang punggung atau backbone ekonomi Indonesia. Di sisi lain, ia mengatakan, di tengah tekanan nilai tukar rupiah, pemerintah perlu menghemat devisa dengan mendorong sejumlah sektor usaha menjadi substitusi impor.

Petrochemical harus dikembangkan. Sebab, lebih dari 50% kontribusi dari bahan baku itu datang dari basis minyak. Selama ini kita banyak impor. Kalau kita bisa membenahi bagian ini, maka kita telah berhehemat devisa dan akan berdampak langsung ke defisit transaksi berjalan (CAD) Indonesia,” ujar Arif.

Selain industri petrokimia, turunan industri baja juga perlu didorong. Pemerintah juga perlu berpihak ke pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) dengan memberikan bunga pinjaman yang efisien dan favorable bagi semua jenis dan pelaku usaha. Langkah-langkah itu perlu dilakukan karena saat ini ada lima tantangan ekonomi yang menghadang Indonesia. Dari lima tantangan itu, tiga berasal dari eksternal dan dua dari domestik.

Tantangan dari luar adalah perang dagang, kenaikan Fed Fund Rate, dan kenaikan harga minyak. Sementara tantangan dari dalam negeri adalah disparitas pembangunan Jawa dan luar Jawa, termasuk ketenagakerjaan. Mantan Menko Perekonomian Rizal Ramli mengatakan, pelemahan nilai tukar rupiah hingga hampir menyentuh Rp 15.000 per dollar AS, baru awalan. Sebab, bisa saja rupiah mengalami pelebahan lebih dalam lagi ke depannya. Sebab, langkah yang diambil pemerintah dalam menstabilkan ekonomi cenderung behind the curve. “Langkah Menkeu, Menko, dan menteri ekonomi lainnya behind the curve. BI saja yang ahead the curve,” ujarnya.